Skip to main content

Posts

Showing posts with the label My Point of View

Stop Body Shaming People

"Saya mau kurus" Ungkap J (Laki-laki, 8 tahun) pada tantenya dipagi itu. Malam sebelumnya, beberapa orang mengatakan bahwa J berbadan besar. Tidak hanya malam itu, hari-hari sebelumnya J juga mendapat pernyataan itu. Saya mengenal J sejak pertama kali pindah ke kota ini sebagai anak yang enerjik, periang dan supel. Bagi saya, J adalah antitesis saya. Selain 3 sifat J diatas, beberapa hal juga saling berkebalikan. Saya dulu mengerjakan PR dengan sukarela. Perlu usaha keras agar J mengerjakan PR. Saya dulu duduk manis di kelas. Perlu upaya agar J duduk diam di kelas. Selain 3 sifat diatas, cara belajar kamipun berbeda. Cerita tentang J dari Tante-nya yang adalah sister-from-another-family saya selalu membuat tertawa sekaligus kagum dengan kehidupan yang bebas dan ceria itu. Namun tidak dengan cerita tentang keinginannya untuk kurus itu. Seorang anak yang enerjik, periang, supel serta cenderung 'malas tahu' (re: 'malas tahu' tidak selalu berarti...

Orang (yang) Sulit

Empat hari terakhir ini saya mengikuti pelatihan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK) yang diadakan oleh NGO tempat saya bekerja bekerja sama dengan mitra kami. Teori-teori dalam pelatihan ini sungguh menarik dan bermanfaat yang membuat saya sadar bahwa menjadi orang tua itu butuh kesiapan karena membesarkan anak tidak bisa disepelehkan. Semua orang tua yang membesarkan anak dengan versi terbaik mereka itu luar biasa. Hari ini, dihari terakhir pelatihan, kami melakukan praktek disalah satu Polindes di desa layanan. Saya sekelompok dengan 2 orang tenaga kesehatan. Kami mendeteksi tumbuh dan kembang 2 orang anak berusia 4 bulan, sebut saja L dan anak berusia 4 tahun, sebut saja T. L berusia 4 bulan sehingga semua tahapan deteksi dibantu dan dijawab oleh ibu-nya yang terlihat masih sangat muda. L sangat koperatif, tidak menangis, walau digendong oleh ibu bidan (saya belum berani menggendong bayi) lalu ditidurkan telungkup dan telentang sebaga...

10 Most Important People in Life

Disuatu course yang adalah bagian dari capacity buiding bagi staf ditempat saya bekerja, ditutup dengan refleksi. Saya bersyukur bisa bekerja di International NGO yang banyak capacity building dan juga refleksi. Refleksi itu penting sekali karena ternyata banyak pembelajaran yang kadang lupa kita ambil dari semua yang sudah dilakukan. Nah, pada refleksi itu ada satu bagian dimana fasilitator meminta kami untuk menuliskan 10 orang paling penting dalam hidup. Detik pertama saya langsung menulis dengan mudah 4 orang yang paling berarti dalam hidup saya pada no urut 1 hingga 4. Who’s next? Satu menit. Dua menit. Waktu berlalu dan saya belum menemukan orang ke 5. Setelah memutar kembali beberapa kejadian menyenangkan akhirnya saya menuliskan orang ke 5 dan 6. Berpikir lagi. Saya pun mengingat kembali dua orang yang saya nyaman ketika ada mereka. Mereka berada pada urutan ke 7 dan 8. Berpikir lebih lama lagi, dan karena saya sudah terlalu lama berpikir, saya pun memutuska...

Tuhan Tidak Sejahat Itu

Suatu hari, seseorang mengalami sakit yang cukup parah. Sakit yang didiagnosis berbeda-beda oleh beberapa dokter. Sakit yang membuat orang-orang mulai berspekulasi berdasarkan pengalaman dan pendapat mereka sendiri. Pengobatan pun dilakukan baik modern maupun tradisional. Hingga ada yang berkata bahwa sakit ini karena dosa orang tersebut juga dosa kedua orangtuanya. Pertanyaan pun muncul, apakah Tuhan sejahat itu? Manusia memang tidak luput dari dosa. Lalu berdoa untuk minta ampun. Tuhan pun bilang bahwa jika mengaku dengan sungguh maka Ia akan menghapus dosa kita. Lalu, apakah jika seseorang sakit parah, atau mengalami pergumulan yang berat lainnya karena Tuhan tidak menghapus dosanya dan menghukumnya? Ya, memang ada hal yang harus manusia tanggung sebagai akibat dari perbuatan dosanya tapi apakah harus seberat itu? Pertanyaan ini tersimpan beberapa lama tanpa ada jawaban. Suatu hari, pada devosi pagi di kantor, seorang teman memberi kesaksian mengenai saudaranya ya...

Batu, Roti dan Yusuf

Devosi pagi adalah aktivitas pertama disetiap hari kerja di WVI. Saya banyak belajar juga mendapat kekuatan baru. Dua hari terakhir ini devosi yang sangat menguatkan dan sangat sesuai dengan apa yang sedang saya alami. Oleh karena saya tidak percaya pada kebetulan maka devosi-devosi ini tentu ada maksud. Pertama, devosi yang diambil dari Matius 7:7-11 mengenai Hal Pengabulan Doa. Ada satu quote dari seorang staf senior “Terkadang kita membutuhkan waktu untuk melihat batu itu sebagai roti.” Maksudnya, secara sederhana, adalah terkadang kita tidak langsung menyadari dan menerima apa yang Tuhan biarkan terjadi pada kehidupan kita. Padahal, apapun yang Tuhan ijinkan itu adalah yang terbaik yang kita butuhkan. Kita masih sering bertanya kenapa ini terjadi, kenapa saya dan sebagainya padahal ada hal baik dibalik semua itu. Untuk menyadarinya, kita kadang (dalam kasus saya, sering) membutuhkan waktu untuk akhirnya menyadari kalau itu adalah yang terbaik. Kedua, mengenai Yusuf ...

Menjaga Jarak

Memasuki usia 20an, saya menyadari bahwa di dunia ini ada beberapa hal yang tidak dapat dihindari. Ketidakdapatan ini disebabkan ikatan yang cukup kuat. Agama dan budaya memiliki pengaruh dalam kuatnya ikatan ini. Untuk alasan pribadi, saya tidak dapat menjelaskan contoh hal-hal yang tidak dapat dihindari tersebut. Lagipula, ini mudah ditebak sepertinya. Namun dapat saya katakan bahwa hal ini berkaitan dengan hubungan. Kembali ke pengalaman saya, hubungan yang tidak dapat dihindari ini cukup mengganggu. Interaksi saya tidak leluasa. Jika dapat, saya ingin sekali berlari daripadanya. Tapi tidak mungkin. Saya pun memikirkan dan mendapatkan sebuah solusi: menjaga jarak! Menjaga jarak dari hal yang tidak dapat dihindari. Hingga saat ini, saya belum menemukan solusi lain yang lebih baik. Menjaga jarak ini menurut saya membawa keuntungan bagi saya dan bagi pihak lain tidak membawa kerugian. Cukup adil saya rasa. Semoga. Lalu, bagaimana dengan hal tidak nyaman lainnya yang belu...

Minke and I

Tulisan ini mengenai Minke, salah seorang tokoh utama dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Saya baru saja selesai membaca Anak Semua Bangsa yang merupakan buku kedua dari Tetralogi ini. Dalam buku ini, kembali diceritakan tentang Minke yang kurang memahami keadaan masyarakatnya sendiri. Minke adalah orang Jawa keturunan bangsawan yang bersekolah di sekolah milik Belanda. Hal ini turut menyebabkan Minke kurang paham mengenai keadaan masyarakat Jawa itu sendiri. Sehingga Minke pun melakukan observasi untuk lebih mengenal kaumnya. Membaca bagian ini, saya menyadari suatu hal. Ada kesamaan antara saya dan Minke. Saya merantau kurang lebih 10 tahun sejak lulus SMP. Sehingga bisa dikatakan bahwa waktu remaja dan menjelang dewasa saya dihabiskan di Jawa. Padahal waktu ini adalah masa ketika saya sudah cukup mengerti untuk mengamati keadaan sosial dilingkungan sekitar dan belajar daripadanya. Saya pun kurang memahami masyarakat sekitar saya. Seringkali saya tidak paham ses...

Just Blooms

Jika kehidupan saya dilagukan maka lirik yang dapat menggambarkannya adalah “banyak perkara yang tak dapat ku mengerti…” Saya mendapati bahwa melakukan yang terbaik itu tidak ada standardisasi Tidak ada takaran yang digunakan secara universal Walau setiap orang melakukan yang terbaik (menurut versi masing-masing individu) tapi hasilnya pasti berbeda-beda Memang betul bahwa standardisasi itu tidak selamanya baik Beberapa waktu yang lalu ada berita bahwa di Australia, makanan sejumlah milyaran Rupiah terbuang karena tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan supermarket Jika segala sesuatu ada standarnya maka belum tentu baik ternyata Mungkin demikian juga dengan melakukan yang terbaik Ini tindakan yang sangat subjektif Tidak akan pernah sama Jika ditetapkan standar akan timbul ketidakadilan karena subjektifitas tadi Seperti biasa semesta tidak pernah membiarkan saya larut dalam kegamangan Saya membaca sebuah kalimat yang sangat membesarkan hati “A flower does...

Sustaining Love

Pada suatu khotbah di sebuah gereja di Malang, sang Pendeta berkata: “Lebih sulit memelihara cinta ( sustaining love ) daripada jatuh cinta ( falling in love )” Waktu itu saya membenarkannya tanpa tahu bagaimana rasanya hingga sekarang ini Ada yang bilang suatu hubungan tanpa masalah itu bagai perahu yang berada di air yang tenang yang mana karena air yang tenang itu maka dapat sampai kepada tujuan Dikatakan tanpa masalah karena hubungan tersebut sudah tidak ada banyak ‘drama’, kedua pihak sudah saling mengerti Karena sudah saling mengerti itu membuat satu pihak took another party for granted Ah kan dia sudah jadi milik saya Hubungan ini sudah sekian tahun Keluarga sudah saling mengenal bahkan disetujui Kita pasti menikah Lalu tidak ada lagi usaha untuk sustaining love itu tadi Mungkin ini salah satu alasan mengapa memelihara cinta itu lebih susah karena dalam prosesnya tidak ada lagi usaha untuk mendapatkan perhatian, tidak ada lagi bunga-bunga dan kembang api di...

Pangan dan Pendidikan

Yogyakarta sendu akhir-akhir ini Kelihatannya musim hujan telah tiba Mendung disertai dingin setiap hari merangsang nafsu makan lalu lapar pun sering menyerang ditengah malam Lapar itu salah satu hal yang sungguh tidak menyenangkan Lapar merenggut segala semangat dan konsentrasi bagi saya Lalu mengingatkan saya pada hal yang menjadi pemikiran saya dahulu Bahwa pendidikan dan pangan itu harus saling melengkapi didukung dengan kesehatan Kenapa? Bagaimana dapat seseorang belajar dengan baik jika perutnya lapar? Sedihnya, Indonesia belum memperhatikan kedua hal ini dengan baik Pangan dan pendidikan juga kesehatan itu masih problematik dinegeri ini Wajib belajar kita masih 9 tahun sehingga SMA harus bayar Daripada bayar lebih baik tidak sekolah dan membantu orang tua mencari uang Karena lebih penting ada makanan daripada sekolah Alasan ini dikemukakan oleh seorang penjual kacang rebus di Soe yang ditemui Papa saya dijalan Pendidikan ini berdampak hampir ke seg...

Nyai Ontosoroh

Setelah membeli Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, empat bulan yang lalu akhirnya saya selesai membacanya malam kemarin. Butuh waktu yang lama karena ke(sok)sibukan saya misalnya menonton, mengerjakan tugas, membaca materi kuliah dan lain-lain. Pada awalnya saya mengalami sedikit kesusahan dalam memahami novel tahun 1980an ini karena bahasa Indonesia yang jadul tapi lama kelamaan makin terbiasa. Cerita ini sangat menarik dan pada akhirnya sungguh membuat penasaran untuk segera melanjutkan ke buku berikutnya. Ada seorang tokoh yang sangat saya kagumi yaitu Nyai Ontosoroh yang adalah istri simpanan seorang Belanda bernama Tuan Mellema. Dari hubungan itu, mereka mempunyai dua orang anak yaitu Robert Mellema dan Annelies Mellema. Nyai Ontosoroh ini diceritakan sebagai wanita yang sangat mandiri, berkeinginan kuat untuk mengetahui sesuatu, selalu mau belajar dan rajin membaca. Beliau adalah contoh wanita kuat, berani, tegar dan berprinsip ...

Membasuh Kaki

Delapan jam pertama dihari ini diwarnai dengan tiga cerita beda rasa. Jengkel, pilu, prihatin. Lima menit setelah tiba di kampus, ketua kelas memberitahu bahwa kelas jam 7.30 itu ditunda. Dosen mengirim sms padanya pukul 06.00 dan karena sang ketua kelas tidak terbiasa melihat hp waktu bangun tidur maka tidak ada pemberitahuan ke teman-teman termasuk saya. Saya jengkel. Sambil berjengkelria, saya membuka Path dan melihat posting -an tentang cerita Wulan Guritno yang bertemu dengan mama sang anak korban pelecehan seksual di JIS. Membaca ceritanya memilukan hati. Lalu teman lain di Path yang sedang hamil memberi komentar tentang kisah seseorang yang marah karena seorang wanita hamil meminta tempat duduknya di kereta dengan alasan dia (yang marah) saja jika ingin dapat tempat duduk datang lebih pagi. Masa’ wanita hamil tersebut tidak bisa demikian? Saya prihatin seperti kebiasaan Presiden kita. Karena kelas ditunda maka saya pulang dan melanjutkan tidur yang belum genap 8 jam ...

Flappy Bird

Beberapa hari terakhir ini game Flappy Bird sedang booming . Game ini adalah tentang menerbangkan seekor burung dengan cara tap (mengetuk atau menyentuh) layar handphone agar burung tersebut melewati tiang-tiang hijau tanpa menabraknya. Seharian ini best score saya cuma 5! Tiang-tiang hijau tadi terdapat celah ditengahnya yang harus dilewati si burung. Tiap melewati satu celah maka mendapatkan 1 score . Tinggi dari celah-celah itu bervariasi. Nah disinilah letak tantangannya. Bagaimana pemain mengontrol terbangnya si burung agar dapat melewati celah-celah tiang yang bervariasi itu tanpa menabraknya. Quite fun Quite frustrating Ditengah perjuangan (ya, saya sebut perjuangan karena saya belum lincah menerbangkannya) tadi, terlintas dipikiran saya bahwa memainkan game ini tidak boleh terlalu ngotot men- tap layar sehingga burung terbang terlalu tinggi dan juga tidak boleh terlalu lembek, lemah, santai sehingga burung terbang terlalu rendah. Harus selalu waspada...

Korban Suatu Nilai

Di kost tempat saya tinggal dijaga oleh seorang wanita yang tidak muda lagi namun belum terlalu tua juga. Sebut saja Mbak S. Mbak S membawa anaknya yang duduk dibangku playgroup berumur sekitar 3-4 tahun yang bernama W. Mbak S ini baik dan rajin. Sebagai penjaga kost, beliau memperhatikan kost dengan baik termasuk melayani penghuni dengan sangat baik. Walau saya pernah jengkel padanya karena tidak membukakan pintu ketika pulang terlalu malam. W, anak dari Mbak S, adalah anak yang cerewet dan lucu. Tapi pendiam kalau di sekolah menurut Mbak S. Beberapa kali saya berbincang-bincang dengan Mbak S ketika saya mencuci pakaian dan Mbak S juga sedang mencuci dilantai 3. Suatu ketika, Mbak S bercerita pada saya bahwa di televisi ada berita seorang Ibu membuang bayinya ke sawah (atau sungai, saya tidak begitu ingat tempatnya) karena lelaki yang menghamilinya tidak bertanggungjawab. Mbak S bilang kok bisa ada Ibu yang jahat seperti itu. Lalu Mbak S berkata lagi “Kayak papanya W ...

Stay “Children” Forever

Kalau uda gede aku mau jadi Eksmud Mau jadi bos! Hari-hari ngomong campur bahasa Inggris Tiap Jumat pulang kantor nongkrong bareng sesama Eksmud ngomong proyek besar biar keliatan sukses Suara digede-gedein biar kedengaran cewek dimeja sebelah Kalau weekend sarapan di café sambil sibuk laptopan Pesan kopi secangkir harga 40ribuan minumnya pelan-pelan biar tahan sampai siang demi wifi gratis Kalau tanggal tua pagi siang malam makannya mie instan Kalau mau nelpon bisanya cuma missed call Jadi orang gede menyenangkan tapi susah dijalanin Think again. In fact, I am rarely watching television because I don’t like it that much. But when I took a rest in a motel in Jogja, there was a television right in front of me so I watched it and there was a commercial from a cellular operator that really attracted my attention. WOW! Those words on that television commercial represent what I feel lately. Lol. I was always have a though that children are so cute, innocent...